Langsung ke konten utama

Filosofi Bertahan dan Menyerang

Bila bicara tentang masa paling bahagia dalam kehidupan saya, ada dua masa yang bisa saya katakan masa-masa emas kebahagiaan dalam hidup saya. Pertama adalah masa dimana kita masih menjadi anak kecil ingusan dan yang kedua adalah masa-masa saat kita masih duduk di bangku SMA. Terlepas dari dua masa itu, semua tetap saya anggap masa-masa indah, namun kedua masa tersebut adalah masa terindah dari yang terindah. Entah apakah kelak ada yang menggantikannya di masa mendatang. Satu yang pasti, saya akan terus mencobanya. Masa-masa SMA, masa-masa paling bahagia yang akan selalu kita kenang hingga tutup usia. Masa-masa dimana impian itu tumbuh berkembang bersama-sama. Di saat SMA, saya yakin semua orang pasti akan merasakan dimana kita terobsesi dengan apa yang disebut impian. Impian yang akan tumbuh disetiap benak semua orang pada masa itu, tumbuh dan berkembang. Dan kita berpikiran bahwa impian itu adalah sesuatu yang akan indah pada waktunya, tanpa terlebih dahulu memikirkan resiko-resiko lainnya. Hingga terkadang pemikiran tersebut terlalu merasuki pikiran kita, menyebabkan kita akan bertindak di luar batas kemampuan. Yang lebih parahnya lagi, jelas semua orang di waktu itu akan berpikiran semua IMPIAN akan terwujud di hari kemudian.

Bicara tentang impian, dulu waktu masih di SMA ada beberapa impian yang ingin saya gapai. Dari yang kecil hingga yang besar, dari mulai impian tentang karir hingga impian tentang pasangan, banyak sekali kalau dijelaskan. Dan bodohnya, saya terlalu yakin bahwa semua impian tersebut akan tercapai. Keyakinan yang sudah tak pernah lagi menyala di waktu-waktu sekarang ini. Bukan redup tetapi tak berkobar-kobar seperti dulu lagi. Karena sebabnya adalah selepas SMA, saya merasakan sendiri bahwa impian-impian tersebut tak mudah untuk digapai. Inilah realita, kehidupan yang sebenarnya dari pahitnya dunia ini. Yahh itulah masa-masa selepas SMA, masa-masa dimana kita harus menjadi dewasa, dewasa dalam menerima segalanya. Bukan hanya tentang menerima kemenangan tapi juga tentang menerima kegagalan. Kita harus siap dengan apapun yang menghadang, karena ini semua adalah tentang bertahan. Bukan hanya tentang pola menyerang tapi juga tentang pola bertahan. Suatu pola yang bisa kita sebut filosofi kehidupan. Filosofi dimana transisi dari bertahan ke menyerang atau menyerang ke bertahan berjalan seiringan. Demi apa? Jelas demi eksistensi kehidupan kita di peta persaingan. Saya bukan bermaksud untuk menjadi guru, tetapi lebih kepada berbagi pengalaman. Saya sadar bahwa saya bukan orang terbaik yang pantas untuk didengar, tetapi setidaknya belajarlah dari kegagalan diri saya.

Filosofi perpindahan, itulah yang sampai sekarang masih saya pelajari. Dimana tadi diatas sudah saya jelaskan sedikit tentang filosofi tersebut. Inti dari filosofi ini adalah tentang sebuah transisi atau perpindahan, yaitu tehnik dimana semakin mahir kita dalam bertransisi dari satu posisi ke posisi yang lain maka sudah dipastikan kita akan memenangkan persaingan. Inilah kenapa kita harus siap, ini bukan lagi masa-masanya kita terlalu ingin memenangkan segalanya atau terlalu lemah untuk bertahan. Ini adalah masa-masa dimana kita harus menjaga irama situasi di sekeliling kita. Jangan terlalu memaksa dan lihatlah sekelilingmu, baru kemudian amati dan putuskan. Ingat itu! Dan yang terpenting, kemenangan memang menyenangkan, tetapi jangan pernah mencampur adukkannya dengan keegoisan. Lebih baik jadilah seseorang yang memenangkan segalanya dengan “Elegan” bukan “Arogan”. Dua kata yang mungkin sama tapi memiliki arti yang berbedakan?

Dari semua pembahasan diatas saya akan merangkumnya diakhir tulisan ini. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari semua tulisan ini bahwa impian merupakan sesuatu yang sangat indah untuk diperjuangkan. Tapi setidaknya persiapkanlah diri kita dengan matang-matang, bukan hanya tentang kebahagiaan tapi juga tentang kesedihan. Agar kelak ketika impian tersebut berbalik arah dan berusaha menampar realita kehidupan kita, diri kita sudah siap untuk menerimanya dan bergegas mempersiapkan diri untuk bangkit dan memeluk erat impian itu lagi.



Komentar