Langsung ke konten utama

Sepandai-Pandai Tupai Melompat, Pasti Enggak Akan Sepandai Kamu dalam Memilih

Dari sekian banyak kelebihanmu, mungkin kecerdasanmu dalam memilih itu yang paling jago banget. Itulah kenapa semua orang mengejarmu, karena kamu tak sekedar hanya ‘menjadi cantik’.

Perempuan jaman now emang seharusnya seperti kamu, tak sekedar cantik dan pandai, tapi juga harus pinter memilih-milih. Indonesia adalah negara demokrasi, setiap warganya diberikan hak kebebasan untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Sekarang mah bukan jamannya Siti Nurbaya lagi, saat kaum-kaummu dipersulit untuk menentukan pilihan. Atau seperti RA Kartini yang aktivisnya sudah khatam ngelontok saja masih kalah sama urusan jodoh ditangan dirinya atau ditangan orang lain. Iya itu dulu sih, sekarang mumpung Indonesia masih negara demokrasi manfaatkanlah sebesar-sebesarnya peluang ini untuk menentukan pilihan terbaik dalam hidupmu. Hidupmu enggak mungkin lagi di intervensi oleh orang lain, kecuali jika kamu termakan hoax hidupmu di intervensi oleh orang asing dan aseng. Eh tapi jangan lama-lama menentukan pilihan, keburu Indonesia jadi negara Khilafah nanti.

Tapi bukan kamu namanya kalau enggak pandai-pandai memilah, wong itu udah jadi kelebihanmu sejak lahir. Pilihanmu tak pernah salah, sekecil apapun enggak pernah bleset. Apalagi kalau urusan jodoh, itulah kenapa aku menyukaimu, iya karena kamu pandai memilih, coba kalau kamu tak pandai memilih sudah barangkali aku yang kamu pilih untuk mendampingimu.

Omong-omong tentang kecerdasan memilih, saya sedang berandai-andai, kalau misalnya saja kecerdasan memilihmu itu bisa ditularkan ke umat Indonesia jaman now. Menyongsong pemilu serentak tahun depan nih, Indonesia butuh tuh pemilih-pemilih terbaik seperti dirimu. Pemilih yang tak sekedar melihat amplopnya saja, rupa-rupawannya saja, atau janji-janji manisnya saja. Pemilih sepertimu bakal memilih yang terbaik untuk masa depan Bangsa, karena ini juga menyangkut kehidupanmu, kehidupan anak dan cucumu kelak. Andai saja ya, pemikiranmu bisa aku taruh flashdisk lalu mentransfernya via bluetooth ke kepala orang-orang Indonesia, maka alangkah cerahnya masa depan Indonesia.

Atau bisa juga kecerdasanmu dalam memilih dimanfaatkan untuk menentukan lineup pemain terbaik untuk mengisi skuat timnas sepakbola kita. Bukan yang pandai silat yang bakal kamu pilih, pastinya yang berskill mumpuni dengan kedalaman strategi yang akan menjadi standar pemilihanmu. Andai itu terlaksana, mungkin Indonesia tak perlu jadi tuan rumah Piala Dunia hanya untuk sekedar bisa lolos ke Piala Dunia.

Seperti kata pepatah, “Sepandai-pandai tupai melompat, pasti enggak akan sepandai kamu juga dalam memilih.”

Terakhir, benih terbaik sudah sepantasnya bersanding dengan benih terbaik juga. Ciptakanlah keturunan-keturunan terbaik untuk negeri ini. Hanya melalui dirimu dan pilihanmulah Indonesia menyongsong era kejayaan bisa tercapai. Keroco-keroco seperti diriku adalah generasi micin yang sudah mencoreng nama baik Indonesia. Berbahagialah karena kamu tak pernah memilihku, hiduplah bahagia dengan pasanganmu.

Teruntuk untukmu, pesanku jika suatu saat kamu merasa suntuk ataupun sedih, ingatlah kata-kataku ini ; kau mungkin lupa bahwa ada cara lain untuk hidup, cara mudah untuk menggapai cita, kita lupa semua ini bisa menjadi milik kita, lalu berteriaklah ‘aku ingin pindah ke meikarta’.      


Komentar